Sambal Belimbing Wuluh

20170808140309-1-01

Sumber : dokumen pribadi

Aku melirik jam di dinding saat meletakkan piring hidangan terakhir di meja makan. Pukul 11:45 wita. Kemudian mataku menyapu seluruh meja makan. Semua hidangan sudah lengkap tersaji.

“Ok, selesai!” Gumamku saat melihat semua sudah tertata rapi di meja makan. Menu istimewa permintaan suami yang lagi kerja bakti bersama bapak-bapak di komplek. Dia tadi memesan sayur asam, tempe goreng, pepes tongkol dan tentu saja, sambal.

Kami berdua terbiasa makan dengan sambal sebagai pendamping. Lidah Jawa kami selalu merasa kurang jika tanpa sambal. Sambal korek, sambal bawang, sambal tomat, atau sambal bajak yang setelah diulek terus ditumis hingga matang.

Jangan heran jika stok cabai, tomat dan terasi tidak pernah luput dari perhatianku saat belanja. Sampai-sampai ibu mertuaku pernah berkelakar bahwa stok cabaiku lebih banyak dari stok beras. Kelakar yang bikin aku malu. Habis, kalau cabai dan terasi aku tidak pernah lupa beli, sementara beras kadang lupa, hihi.

Tapi hari ini sedikit berbeda. Hari ini aku lupa membeli tomat. Sempat agak bingung, tapi kemudian aku menemukan penggantinya. Belimbing wuluh sisa sayur asam dan pepes itu lah yang kubuat sambal. Menurutku, sih, cukup nyaman. Asam pedas dan terasa segar. Tapi, entahlah, apa kata suamiku nanti.

Aku sedang membuat es teh, saat suamiku masuk ke ruang makan. Aroma sabun mandi masih tercium mengelus hidungku. Dan saat kulihat, dia nampak segar dan selevel lebih tampan dari biasanya.

“Mau makan sekarang, Mas?” tanyaku seraya membawa dua gelas es teh ke meja makan.

“Boleh. Udah siap semua, kan?” katanya lalu menarik kursi di ujung meja makan. Kursi favoritnya.

“Sudah sih, tapi tadi lupa nggak beli tomat. Jadi, nggak pakai sambel tomat, deh,” aku duduk di sebelahnya.

“Tapi, tetep pakai sambel, kan?”

Aku hanya mengangguk lalu mulai menyendokkan nasi untuknya. Kulihat dia nampak tidak sabar menyantap hidangan siang itu. Setelah menambahkan sayur asam, pepes tongkol, dia lalu mengambil sepotong tempe dan mencolek sambel di depannya.

“Ini sambel apa, Jeng? ” tanyanya sambil mengunyah perlahan tempe dan sambel yang dicoleknya.

“Sambel belimbing wuluh . Gimana, enak nggak? Kalau aku sih, enak aja. Asem seger, gitu, ” aku mengikutinya mencomot tempe dan menncolek sambal, lalu menggigitnya pelan-pelan.

“Iya, enak. Emang agak asem sih, tapi minimal tidak semasam senyummu saat tanggung Bulan, ” selorohnya lagi sambil melirikku nakal.

Aku hanya geram dan mencubitnya. Cubitan sayang

 

Ini (Memang) Bukan Jogja

Pulang ke kotamu

Ada setangkup haru dalam rindu

Masih seperti dulu

Tiap sudut menyapaku bersahabapenuh selaksa makna

Selamat malam, La…

Lantunan lagu Jojakarta membelai telingaku saat aku memasuki kota ini. Kota yang banyak mengukir kisah diantara kita. Kota, dimana kita pernah tumbuh bersama, sejak kita masih belia, hingga kita berseragam putih abu-abu, sebelum sebuah perpisahan merenggut kebersamaan kita.

Aku belum lupa La, betapa dulu kita seringkali menghabiskan waktu bersama. Sepulang sekolah, saat kegiatan ekstra kurikuler, atau sekedar jalan-jalan ke Benteng Pendem saat hari Minggu tiba. Kita akan bersepeda sejauh 8 km dari rumah kita yang bersebalahan, bermain di tepi Sungai Tempuk, dan baru naik ke tepian saat penduduk setempat mengingatkan bahwa air sungai umrik.

Baca lebih lanjut

Cinta Dalam Sekeranjang Kangkung

hot-thread-4-kangkung-dilarang-di-amerika-serikat-ini-alasannya-0hgh4lx707

Sumber gambar : klik

Masih jam lima pagi. Tapi aku sudah rapi dan wangi. Dua keranjang kangkung sudah nangkring dengan manis di onthel kesayanganku dan siap diantar ke pasar. Di kantong celanaku juga sudah siap sepucuk surat yang akan kuberikan pada pujaan hatiku. Dia salah satu pedagang sayuran langgananku.

Namanya Yanti. Kata Mak Lela pedagang rujak cingur, nama lengkapnya Widyanti. Wee…jan apik tenan! Orangnya kalem klemak-klemek dan jarang bicara. Kulitnya sawo matang seperti aku. Dia semakin kelihatan cantik dengan jilbabnya.

Awalnya aku tidak peduli saat Mak Karto mengenalkan Yanti padaku. Tapi, karena sering bertemu, makin lama aku makin memperhatikannya kemudian menyukainya. Aku memang cuma pedagang kangkung. Tapi pedagang kangkung kan tidak dilarang gandrung? Apalagi aku tergolong juragannya kangkung di desa ini. Jadi, penghasilanku lumayan untuk sehari-hari.

Aku juga sudah punya rumah sendiri meski sederhana. Kendaraan? Hehe, biar cuma sepeda kumbang, tapi lumayan, kan? Kalo boncengan biar romantis kayak filmnya Rano Karno sama Lidya Kandou. Pendek kata, kalau untuk membina rumah tangga, modalku sudah cukup. Karena itulah aku beranikan diri mengungkapkan isi hatiku pada Yanti.

Tapi, rupanya tidak mudah buat yang ndak gaul sepertiku mau nulis surat cinta. Seminggu penuh nyari inspirasi ndak nemu juga. Pinjam majalahnya Bu Lilis tetangga sebelah, nanya Pak Guru Samsul sampai ngebelain masuk warnet nyari di blognya orang orang pinter itu ga dapat ide juga, dapetnya malah mumet.

Gimana ndak mumet coba? Baca tulisan yang bagus, eh, banyak bahasa asingnya. Kata yang punya warnet itu bahasa Jerman. Yanti mana mudeng? Baca tulisan yang puitis, kok kayaknya  kebagusan. Kata-katanya itu, lho, aku banyak nggak pahamnya.  Ada lagi yang malah isinya galau melulu. Kan makin pusing.

Akhirnya aku cuma nulis yang aku pahami saja. ‘Saya suka sama Dik Yanti.’ Itu saja. Ndak muluk-muluk, dan rasanya dia pun akan paham. Perkara nanti nggak diterima itu dipikirkan nanti saja.

Akhirnya, setelah ngonthel selama lima belas menit, sampai juga aku di pasar. Langsung saja aku membawa dua keranjang kangkung itu ke lapak pedagang langgananku. Pak Kardi, Mak Ijah, Lik Maman dan terakhir Jeng Yanti. Duuh…deg degan minta ampun!

Begitu sampai di lapaknya, dag dig dug makin terasa. Tapi, masih kusempatkan menyelipkan amplop bertuliskan ‘Untuk Dik Yanti’ itu, di sela tumpukan kangkung sebelum kuserah terimakan padanya.

Setelah menerima pembayaran kangkung seharga sepuluh ribu rupiah plus senyum manis Yanti, aku pun melangkah pergi masih dengan dag dig dug. Tapi kemudian terdengar dia memanggilku.

“Mas Bambang!” aku menoleh. Kulihat dia melambaikan suratku tadi. Aku hapal warna merah jambunya.

“Ada apa?”

“Ini serius?” tanyanya setelah aku mendekat. Aku cuma mengangguk.

“Dik Yanti bagaimana?” aku makin gemeteran. Takut pingsan jika ditolak.

“Kalau saya pribadi jawaban saya ‘iya’. Tapi, saya tanya Emak dulu, ya? Besok sore ba’da Ashar saya tunggu di rumah,” dia terlihat malu-malu. Sementara aku, kalau tidak ingat sedang di pasar mungkin sudah melompat kegirangan.

Tapi kenyataannya, aku malah tidak bisa bicara. Gemeteran karena dia terima cintaku. Aku cuma senyum-senyum kayak orang gila. Tapi barangkali memang begitu. Orang jatuh cinta bisa berubah jadi apa saja.

Haaah…aku seneng banget. Aku tidak peduli kalo emaknya menolak. Yang penting, Yanti juga suka sama aku. Kalau emaknya menolak biar nanti kudekati lagi pelan-pelan. Dimodusin hihi…

 

 

 

~Cinta memang bisa tumbuh di mana saja, bahkan di pasar, diantara helaian daun-daun kangkung

#Obrolin #OMCAgustus #YukMenulis

Jatuh Cinta

Sore yang basah. Basah oleh hujan yang tak kunjung reda sejak pagi. Aku duduk diam di teras belakang menikmati suara hujan menyentuh bumi, membasahi dedaunan, jalanan, semuanya. Sesekali kurapatkan jaketku sambil melirik ke arah smartphone putih kesayanganku. Memandang seraut wajah di sana.

“Ngapain sih? senyum-senyum sendiri sambil melototin smartphone?”

Suara itu membuatku menoleh. Mas Dian, datang menghampiriku dengan dua cangkir teh hangat. Wajahnya penuh rasa penasaran. Tak merasa terganggu dengan pertanyannyaa, justru aku senang dia kepo.

“Lagi ngapain?” Dia mengulang pertanyaannya lagi seraya menyerahkan cangkir bertuliskan ‘Mama’ itu padaku. Sementara yang bertuliskan ‘Papa’ diletakkan di meja. Akut idak segera menjawab. Menyeruput sedikit teh hangatku, dan membiarkan hangatnya melewati kerongkongan dan menjalari sekujur tubuhku.

“Aku lagi jatuh cinta…,” aku tersenyum nakal. Mas Dian mendelik.

“Kamu selingkuh?!” Tanyanya gusar. Aku bisa melihat dia cemburu. Bingo!

“Nggak! Aku cuma jatuh cinta. Jatuh cinta kan nggak harus berakhir dengan perselingkuhan.”

“Emang dia sapa sih? Apa istimewanya, sampai kamu berani-beraninya jatuh cinta?!” Mas Dian makin gusar.

“Mau liat fotonya? Siap-siap minder ya! Ganteng lho…”

“Mana?!” dia bersiap merebut ponselku.

“Tunggu! Aku akan kasih lihat fotonya,” kataku sambil membuka kunci layar smartphoneku lalu membuka gallery. “Nih, dia yang udah  bikin aku jatuh cinta.”

Mas Dian merebut smartphone-ku dengan kasar, lalu memperhatikan wajah yang ada di foto itu. Seketika kulihat senyumnya mengembang. Lega bercampur kesal.

“Kamu nakal! Jantungku hampir meledak, tahu?!” Dia mencubit gemas pipiku. Sakitnya tak kuhiraukan.

“Aku memang sedang jatuh cinta. Padamu, lagi dan lagi, dan terus jatuh cinta.”

“Sejak kapan?”

“Sejak… Sejak kata ‘sah’ menggema di ruang tamu rumah Bapak, 13 tahun yang lalu.” Aku menatapnya dalam.

“Apa yang membuatmu jatuh cinta?” Mas Dian meraih tanganku dan menggenggamnya. Hangat.

“Semua. Semuanya bikin aku jatuh cinta. Kamu selalu bisa biki aku meleleh,” ucapku haru.

“Meski aku pernah nakal?”

Aku hanya mengangguk. Aku ingat Mas Dian pernah berbuat jahat padaku tapi entah mengapa aku tidak bisa jauh darinya. Mungkin begini rasanya mencintai hingga terluka, lalu sembuh kembali dengan sendirinya. Atau, mungkin ini yang disebut cinta sejati? Entahlah.

“Kamu tahu, Nis? Aku juga setiap hari jatuh cinta padamu. Bisiknya di telingaku.” Kini aku sudah ada di dalam pelukannya yang hangat.

“Meski ada yang lebih cantik dan langsing dari aku?”

“Ya. Mereka mungkin lebih cantik dan langsing. Tapi hati kamu lebih cantik dari mereka dan itu terpancar di wajahmu.” Aku hanya diam mendengar tuturnya. Entahlah, itu pujian atau apa. Tapi aku bersyukur bahwa kami sama-sama jatuh cinta.

“Mas… boleh aku minta sesuatu?” Bisikku.

“Apa?”

“Jangan berhenti untuk saling jatuh cinta, ya?”

“Iya. Kita akan terus jatuh cinta satu sama lain, dulu, sekarang, selamanya…”

5364811502557458455360

***

 

Tiga belas tahun bukan waktu yang sebentar

Suka, duka, sakit, luka, air mata dan tawa bahagia pernah menghiasi cerita

Tapi aku bersyukur

bahwa engkau selalu ada untukku dan buah hati kita

Terima kasih Ayah, karena telah memilihku

Terima kasih karena selalu ada buat perempuan cerewet yang satu ini

Maaf kalau belum bisa jadi istri dan ibu yang baik

Semoga Allah selalu menjagamu, melindungimu, dan terutama meneguhkan imanmu

Karena kau adalah imam kami, yang kuharap bisa mengajak kami semua untuk bersama ke syurgaNya, amiin

Happy 13th  Anniversary  ya Ayah… I love you till the sun dries the sea…

 

 

Late post, 6804 – 6817

 

Perihal Maaf

maaf/ma·af/ n 1 pembebasan seseorang dari hukuman (tuntutan, denda, dan sebagainya) karena suatu kesalahan; ampun: minta –; 2 ungkapan permintaan ampun atau penyesalan: — , saya datang terlambat; 3 ungkapan permintaan izin untuk melakukan sesuatu: — , bolehkah saya bertanya; (KBBI Online)

Lebaran dan Kata Maaf
Maaf. Kata maaf biasanya akan bertebaran di seantero bumi saat mendekati lebaran, saat lebaran, hingga beberapa hari sesudahnya. Ada yang diucapkan langsung sembari sungkem pada orang tua dan yang dituakan, atau bersalaman pada sanak saudara. Ada yang dikirim melalui berbagai media jauh-jauh hari, atau cukup melalui postingan di dunia maya.

Pada hari H lebaran, timeline media sosial hampir dipastikan penuh dengan ucapan selamat lebaran berikut kalimat maaf lahir dan batin. Di blog keroyokan semacam blogdetik atau kompasiana, tulisan mengenai lebaran dan permintaan maaf juga akan bertebaran. Tinggal pilih, mau yang model catatan harian atau fiksi, semua ada. Bahkan seringkali dilengkapi ulasan soal jalur mudik dan wisata kuliner.

Di televisi dan radio, ucapan lebaran dan maaf lahir batin akan tetap terlihat dan terdengar hingga sebulan kemudian. Bisa dimasukkan ke dalam iklan komersil atau ucapan dari pejabat pemerintah dan orang penting lainnya.

Forgiven Not Forgotten
Bicara soal kata maaf, maaf memang mudah sekali diucapkan. Padahal esensinya bukanlah sekedar ucapan di mulut, tapi juga diikuti tindakan berupa perubahan sikap. Bersikap lebih baik jika sudah pernah berbuat salah, memperbaiki diri agar kesalahan yang sama tidak terulang kembali. Sengaja atau tidak sengaja, kesalahan tetaplah sebuah kesalahan.

Demikian pula bagi yang posisinya harus memaafkan. Tidak mudah memberikan maaf jika hati sudah terlanjur tersakiti. Kalau pun sampai memberikan maaf, rerata tidak benar-benar memaafkan, tapi hanya sekedar agar suasana makin memburuk. Selebihnya, rasa kesal, sakit bahkan dendam masih terbawa hingga waktu yang tak bisa ditentukan.

Saya sendiri pernah mengalami keduanya. Dan keduanya sama-sama melelahkan. Saat minta maaf, kita pasti berharap dimaafkan dan setelahnya persoalan selesai. Apalagi jika kita sudah menahan diri untuk tidak mengganggu seseorang yang memaafkan kita. Tapi apa daya, jika ternyata kita masih dirasani ngalor ngidul? Ketulusan kita diragukan. Pasti kita kesal, kan? Apalagi jika kesalahan itu terjadi murni bukan kesengajaan dan kehendak kita. Tapi dari pengalaman saya, tidak ada jalan lain selain diam. Ya, diam.

Orang bilang, forgiven not forgotten. Dimaafkan, tapi kesalahan kita tidak bisa dilupakan. Terlanjur membekas dan menyakitkan. Ini pun pernah saya alami, bahkan sampai sekarang saya masih suka geregetan dengan orang yang sama, meski sudah belasan tahun berlalu. Untuk yang seperti ini, apa yang harus kita lakukan?

Dari sebuah tausyah di TV, lupa penceramahnya siapa, untuk keadaan ini, hendaknya kita belajar untuk lebih ikhlas. Karena jika kita masih mengingat terus kesalahannya, berarti kita belum memaafkan. Ikhlas menerima rasa sakit hatinya, ikhlas memberikan maaf dan ikhlas melewati masa-masa penyembuhan dari rasa sakit hati itu sendiri.

Apakah mudah? Sama sekali tidak. Tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Konon ilmu ikhlas memang ilmu yang berat. Tidak semua orang punya keteguhan hati untuk menjalaninya. Termasuk saya sendiri. Banyak-banyak berdoa dan mendekatkan diri akan membuat hati lebih tenang dan perlahan sikap ikhlas akan hadir di hati kita.

Bukan itu saja. Mengalihkan pikiran ke hal-hal lain akan membuat kita melupakan masalah dan sakit hati. Sehingga lambat laun kita akan bisa berdamai dengan diri sendiri. Itu sudah saya buktikan meski belum 100 %. Tapi setidaknya, rasa sakit dan marah itu sudah berkurang sangaaat banyak.

Lebaran, Dulu dan Sekarang
Lebaran insyaallah akan tiba hanya dalam hitungan jam, bukan hari apalagi minggu. Sebagian orang biasanya sudah nyicil tidak hanya mmbuat kue kering untuk sajian lebaran, tapi juga sudah merancang menu istimewa untuk lebaran. Menu yang tidak biasa dihidangkan sehari-hari.

Di keluarga besar saya, menu istimewa itu adalah rawon atau soto daging. Kenapa? Hehe ya karena kalau ayam, selain sudah sering makan, daging sapi terasa lebih istimewa. Harganya yang mahal membuatnya jarang dihidangkan. Selain itu sering-sering makan daging merah kan nggak baik buat kesehatan badan juga dompet 😀😀

Meski tahun ini, saya tidak akan makan sekalap dulu karena lagi diet, tapi tetap saja menu-menu itu akan menggoyang lidah saya dan sayang buat dilewatkan. Tinggal pintar-pintar ngaturnya saja. Biar lebaran dahsyat diet pun tak tersesat 😍😍😍

Tapi saya bukan mau ngomongin soal kuliner lebaran. Saya mau bahas soal ucapan lebaran.

Jaman saya masih sekolah dulu, memasuki minggu kedua Ramadhan, saya sudah sibuk hunting kartu lebaran. Mendatangi toko satu ke toko lain demi mendapatkan kartu lebaran yang unik dan spesial. Meski lebih sering jatuhnya ke kartu bikinan Harvest yang unyu dan kekinian(ala anak 80-90an).

Setelah memilih beberapa kartu unik, masih lagi saya sibuk memilah, kartu yang mana untuk siapa. Mana yang buat sahabat, sahabat pena(dulu punya beberapa), mantan sampai gebetan#uhuk-uhuk 😀😀

Kalau merasa masih belum nemu kartu yang pas juga, kadang saya memesan sama teman yang jago gambar. Jaman itu, gambar sketsa dan gambar diatas kertas foto yang item kebakar itu lagi happening. Biayanya pun bisa dinego. Secara yang pesen kan teman sendiri. Apalagi mereka orientasinya juga bukan bisnis murni. Jadi keuntungan dikit pun tak masalah. Bahkan ada yang sekedar buat ganti beli bahan doang. Lumayan irit buat anak sekolahan. (Semoga Eriek dan Nanug yang suka tolongin saya banyak rizki dan bahagia bersama keluarga masing-masing)

Buat saya, mengirim ucapan lebaran dengan kartu lebaran atau kartu pos terasa lebih gimanaaa gitu. Lebih personal dan intim(jangan ngeress mikirnya!!!) Setiap ucapan yang kita tulis bisa kita buat sesuai keinginan hati dan lebih warna warni. Bisa nulis pakai spidol warna, ditambahin puisi atau kata mutiara, pantun, dan lain-lain, meski modalnya juga nyontek di majalah haha… Hingga kadang kejadian, yang dikirimin sama yang ngirim pakai kalimat yang sama. 😊😊😊 Tapi nggak masalah, toh sama teman sendiri. Paling jadi bahan ketawaan aja.

Tapi jaman sekarang, ucapan selamat lebaran seperti angin lalu saja. Tinggal cari gambar via Google, unduh, edit sana-sini terus broadcast ke semua kontak di ponsel. Kalau tidak, ada yang sedikit(sedikit aja ya) kreatif nulis ucapan agak panjang, pakai penggalan puisi atau bahkan hadist, tapi ujung-ujungnya broadcast juga. Saya yakin(tepatnya berusaha meyakini), semua melakukannya dengan ketulusan. Tapi entahlah, rasanya tetap saja tidak nyaman.

Saya sendiri lebih suka menulis untuk orang per orang. Apalagi jika untuk menelpon atau bertemu langsung sangat sulit. Misalnya kendala jarak atau kesibukan orang-orang yang ingin saya temui. Saya menulis kalimat yang berbeda untuk orang yang berbeda. Atau jika kalimatnya serupa bahkan sama, tetap saya tidak gunakan broadcast. Kirim satu-satu. Mana tahu saja untuk orang tertentu ada yang ingin saya edit kalimatnya.

Tapi jika memungkinkan, saya lebih suka bertemu langsung atau setidaknya menelpon. Lebih terasa jalinan silaturahimnya. Sekaligus, kita bisa tahu kabar mereka dari yang bersangkutan.

Maaf Lahir dan Batin
Sebagai penulis, eh bukan, sebagai orang yang hobinya nulis, sudah pasti ada kalanya tulisan saya menyinggung atau tidak enak dibaca. Meski saya baru beberapa hari mulai ngeblog lagi, bukan tidak mungkin kan, saya berbuat salah?

Karena itu, sebelum blog ini cuti hingga waktu yang tidak ditentukan, saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pembaca dan follower. Jika ada tulisan saya atau komen saya di blog Anda yang kurang berkenan. Saya manusia, tempatnya salah dan lupa. Semoga ke depannya saya bisa lebih baik.

Untuk yang mudik, hati-hati di perjalanan semoga selamat sampai tujuan. Jangan lupa kunci semua pintu dan jendela, matikan keran dan aliran listrik, cabut selang gas dan pastikan semua aman. Jika perlu titipkan rumah pada tetangga. Kendaraan dan fisik Anda juga harus prima agar semua lancar tanpa kendala. Jangan lupa juga, mohon perlindungan Allah demi kelancaran mudik Anda dan keluarga.

Buat yang lagi diet, dalam artian lagi program turun BB, pulang kampung bukan berarti penggemukan terus lupa diet ya. Kalau makanan di rumah orang tua atau mertua banyak bersantan, siasati dengan menyiapkan sayur tambahan dan buah potong. Jangan lupa juga jaga porsi. Icip-icip boleh kok, tapi dibatasi ya.

Yang tidak kalah penting, terutama para single dan pengantin baru, Anda harus siap untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan ‘ajaib yang sering mampir ke telinga saat mudik. Tahu kan, apaan…? Dan satu lagi, pastikan Anda punya kampung halaman sebelum mudik 😀😀😀

Selamat menyambut lebaran,
Selamat Idul Fitri 1438 H, taqabalallahu mina wa minkum, minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.

 

 

I Hate My Body

Biar aja gemuk, yang penting cantik.

Yang badannya gemuk dan lagi menjalani diet pasti pernah dengar omongan seperti itu. Atau kalimat model lain, gapapa gemuk yang penting somboongng… 🎶🎶🎶 Eh salah… Gapapa gemuk, yang penting sehat.

OK, emang nggak apa-apa sih gemuk selama kita pede dengan penampilan kita. Dan selama kita yakin berdasarkan check up bahwa kita sehat dan baik-baik saja. Saya pun demikian. Saya beranggapan bahwa gemuk itu ga masalah, toh saya tetap terlihat cantik 😳😳😳 Saya juga sehat dan baik-baik saja (menurut saya tanpa check up). Jadi, mau apa lagi?

Anggapan itu kemudian membuat saya makin terlena dengan kegemukan saya. Saya makan sedikit, olah raga sedikit alias semaunya plus nyemil sembarangan nggak kira-kira. Sindiran suami terhadap gaya hidup saya tidak terlalu saya pikirkan. Iya, saya memang tersinggung saat itu. Tapi saat berikutnya saya mengabaikannya. Terus saja begitu hingga suatu saat saya merasa benci menatap tubuh saya di cermin. Saya beci setiap milimeternya, apalagi jika teringat perkataan suami saya. Belum lagi semua ihtiar salah kaprah yang sudah saya lakukan. Bukannya saya mulai melakukan sesuatu, saya hanya bertahan dengan kebencian saya sendiri.

Akhirnya suatu saat saya mendapatkan semacam pencerahan, setelah saya membaca tulisan Mbak Ira Indiana di blognya. Beliau bercerita bagaimana perjalanannya menurunkan berat badan dengan menjaga pola makan dan olah raga. Berulang kali saya baca tulisan yang bersambung itu. Saya baca dan baca lagi. Tidak cukup hanya membaca tulisan beliau, saya juga sharing dan tanya-tanya via Whatsapp plus kepoin akun instagram-nya. Sekedar mengintip menu apa yang biasa dikonsumsi.

Lantas, apakah setelahnya saya mulai serius diet? Tidak. Saya masih jalan di tempat. Sampai suatu hari, saya benar-benar sadar bahwa saya harus berubah. Allah menciptakan saya lengkap dan sempurna, membenci tubuh sendiri sama juga membenci penciptanya. Astaghfirullah.

Selain itu saya juga makin sadar bahwa saya makin susah cari baju yang pas. Padahal sebagaimana layaknya perempuan, saya pengen tampil lebih cantik dan menarik di depan suami. Tidak harus sama dengan orang-orang, tapi setidaknya saya tampil lebih baik menurut ukuran saya dan suami.

Maka mulailah saya berubah. Tepatnya akhir November 2016 saya mulai melakukan perubahan. Saya membuka akun instagram dan berteman dengan sesama pejuang diet. Tidak hanya berteman, saya juga mencoba diet yang mereka lakukan. Mulai diet GM, diet karbo, diet dengan menu sesuai pedoman gizi seimbang, mencoba food combining, diet kenyang, hingga eating clean. Saya juga menantang diri saya sendiri, bisa nggak, saya nggak makan makanan tertentu yang selama ini saya makan? Gorengan, kerupuk dan keripik, minuman kemasan dan nasi putih adalah hal yang coba saya jauhi.

Saya juga mulai mencoba unyuk rutin olah raga. Mulai jalan pagi, zumba, dance fitness, aerobic, yoga dan pilates yang 11-12, hingga HIIT dan Taebo yang bikin gempor, semua saya coba. Tidak mudah, berat dan kadang saya bosan. Tapi, bukankah tidak akan panen jika tidak menanam? Saya juga mulai mengubah mindset saya soal diet. Yang tadinya hanya pengen kurus, saya lebih ke pengen sehat. Langsung adalah bonusnya. Kenapa? Kalau orientasinya cuma langsing, saya akan cepat puas jika sudah sampai berat ideal. Tapi jika sehat, saya akan berusaha untuk terus mempertahankannya.

Akhirnya, setelah beberapa bulan saya berjuang, apa yang selama ini saya usahakan mulai membuahkan hasil. Jarum di timbangan saya mulai bergeser ke kiri. Alhamdulillah 😊😊😊

Bersambung

Makasih Ya, Masih Menganggapku Ada

Screenshot_2017-06-20-06-01-07

Kemarin buka notif lihat gambar ini. Ucapan selamat dari WP untuk 3 tahun bersamanya. Padahal ada beberapa Bulan yang hilang ketika blog terdahulu dilumpuhkan dengan paksa. KO.

Tapi saya lupa bahwa saya masih punya akun WP sehingga saya masih dianggap ada.

Makasih ya… Makasih juga untuk follower lama dan yang baru…

Aku Bersyukur

Aku bersyukur…
Berada di tempat ini, tempat yang jauh dari keramaian. Tempat dimana persaudaraan masih begitu terasa. Dimana segalanya masih begitu sederhana. Perempuan dan anak-anak yang mandi di kali, jalanan berbatu yang berkelok naik dan turun, tempat dimana bahasa ibu masih dijunjung tinggi. Belum tergerus globalisasi, meski teknologi mulai menghampiri.

 

Aku bersyukur…
Menghabiskan sisa Ramadhan di tempat ini. Di sini, Ramadhan masih terasa seperti masa kecilku dulu. Menyiapkan hidangan buka bersama saudara, tarawih dan tadarus bersama kawan di mushola juga jalan-jalan pagi usai sholat subuh hingga waktu dhuha. Disini, lantunan ayat suci masih menghiasi malam-malam sunyi. Dari langgar depan rumah, dari masjid di ujung jalan, atau surau di seberang sungai.

 

Disini, semua seolah berlomba mengkhatamkan Al Qur’an tepat waktu. Jika aku tidak salah dengar, selama aku di sini, mereka sudah khatam dua kali. Satu membaca dengan pengeras suara, lainnya menyimak dengan seksama. Tanpa terasa, mengkhatamkan bersama-sama. Sesekali memang terbata atau salah baca. Tak mengapa, tetap saja syahdu terasa. Membuatku betah berlama-lama berdiam di teras rumah, bersendirian menikmati sendu malam. Bersyukur jika dapat lailatul qadar, jika tak dapat pun tak apalah. Setidaknya telinga ini mendengarkan sesuatu yang bermakna.

 

Aku bersyukur… Bisa menghabiskan waktuku untuk menjaganya. Ibuku, harta terbaikku saat ini. Bukan ibu kandungku karena dia telah berpulang, tapi seorang perempuan, yang telah melahirkan lelakiku, orang yang paling kucintai. Selama ini aku jauh darinya, kerap dihinggapi kekhawatiran dan ketakutan akan kesehatannya yang naik turun. Tapi kali ini aku punya kesempatan lebih untuk memastikan segalanya baik-baik saja. Bukan hanya apa yang harus dimakan olehnya, tapi lebih pada emosinya. Dan aku percaya, kehadiranku dan anak-anak mampu memberi warna berbeda di kesehariannya. InsyaAllah.

 

Aku juga bersyukur berada di dekatnya. Bercerita apa saja tentang masa mudanya, berbagi resep masakan keluarga, memahami seleranya, apa saja. Dan kebersamaanku dengannya membuatku tahu sesuatu, yang selama ini belum pernah dia ungkapkan. Suara hati terdalamnya, tentang seseorang yang kini menjadi bagian hidupku dan lelakiku. Seseorang, yang ternyata tak pernah sama sekali dia rindukan bahkan pikirkan. Aku tidak tahu harus senang atau sedih, yang aku tahu, ternyata aku, baginya masih satu-satunya.

 

Tapi yang paling aku syukuri saat ini, berada di sini sepanjang sisa Ramadhan mengajarkan aku arti merindu. Lelakiku masih di seberang sana, sedang menyelesaikan tugas-tugasnya. Aku memang bukan istri tentara, tapi tak jarang aku pun harus berpisah sementara. Tak apa, justru ini kesempatan bagiku mengeja rindu dan memahami bahwa sebenarnya aku tidak bisa tanpanya. Bahkan dalam hal remeh temeh sesederhana memilih sandal baru. Bukan karena mau lebaran, tapi memang sandal lamaku sudah minta ganti.

 

Aku menunggunya tiba beberapa hari lagi. Sudah banyak cerita yang kusimpan untuk kututurkan padanya. Tentu saja bukan sekedar bercerita. Pasti akan ada hal lain yang tak perlu kutulis di sini, jika aku tidak mau dianggap menebar konten pornografi. Aku tidak sabar lagi…

On Diet : Awal Perjalanan

Prolog
Suatu hari di sebuah kafe
Pelayan : “Selamat siang, Tuan? Anda ingin saya buatkan sesuatu?”
Pemuda : “Apa saja, selama tidak mengandung gula. I’m on diet. ”
Pelayan : “Baiklah, Tuan, mohon tunggu sebentar. ”
Pemuda : “Tapi, tunggu!”
Pelayan : “Ada lagi, Tuan?”
Pemuda : “Bisakah kau tambahkan sesendok senyum manismu? Agar hariku terasa lebih manis… ”
Pelayan. : #@#%&????

***

Huaaa… Prolognya ya… 😀😀 Tapi jangan dulu berharap ini adalah sebuah cerita fiksi romantis dan sejenisnya. Bukan. Ini cuma cerita emak-emak yang lagi diet.

Diet? Ya, saya sedang diet.
Pengen langsing? Bisa jadi, meski tidak terlalu berharap seperti dulu.
Lho, kenapa? Bukannya semua orang diet pengen langsing? Iya, sih. Tapi kalau sekarang saya lebih pengen sehat. Apalagi kalau kita buka Kamus Besar Bahasa Indonesia diet memiliki makna aturan makanan khusus untuk kesehatan dan sebagainya (biasanya atas petunjuk dokter).

Nah, sudah jelas kan? Tidak ada keterangan yang menunjukkan bahwa diet cuma buat yang pengen langsing. So, sudah benar alasan saya bahwa saya diet supaya sehat dan langsing adalah bonusnya.

Apakah sudah berhasil? Mmmm… Kalau keberhasilan yang dimaksud adalah mencapai berat ideal, jelas belum. Tapi berhasil memangkas BB sebanyak 8 kg itu buat saya prestasi ya. Sebuah pencapaian gitu. Karena untuk mencapai angka 66 kg dari awalnya 74 kg itu penuh perjuangan guys. Serius!

Saya orangnya doyan makan. Kalau makan nggak pakai mikir dulu, yang penting lidah terpuaskan nggak mikir akibatnya. Sempat sih, takut gemuk sampai nggak mau makan cemilan model apapun. Tapi kemudian saya menjadi pemakan segala. Sayur dan buah doyan, gorengan sama es krim juga, cokelat apalagi. Numero uno. Belum lagi segala model keripik mulai tempe, kentang, singkong termasuk bakso goreng dan makaroni goreng. Apalagi yang pedas nampol.

Kemudian tanpa saya sadari bobot, bibit, bebet eh bobot badan saya makin melambung, tubuh makin lebar ke samping dan ke depan. Lalu semakin lama kesehatan saya juga makin drop. Saya gampang capek, sering nyeri di beberapa persendian, dikit-dikit mirgrain dan banyak keluhan lainnya. Awalnya sih, masih saya diamkan dan hanya mengatasinya dengan obat warung. Akibatnya? Ya sakitnya datang lagi dan lagi.

Kemudian tibalah saatnya saya memutuskan untuk menurunkan berat badan. Sayangnya, saat itu saya melakukan langkah yang salah. Saya tidak menurunkan berat badan dengan cara yang sehat dan benar, tapi justru saya melarikan diri ke diet pills. Saya juga mengkonsumsi nutrisi bla bla bla yang katanya bisa membantu menurunkan berat badan. Tapi alih-alih saya yang berubah menjadi seramping Raline Shah atau seseksi Jenifer Lopez, justru dompet saya yang langsing. Habis harganya mahal banget!

Entahlah, sudah berapa macam diet pills dan nutrisi diet yang saya coba, hingga akhirnya saya memutuskan untuk berhenti, karena merasa itu tidak ada manfaatnya.

Bersambung